Bukan Cuma Estetik! Ternyata Ini Alasan Gen Z Surabaya Kembali Gemar Baca Buku Fisik

Kalau beberapa tahun lalu membaca sempat dianggap hobi yang membosankan atau sekadar tuntutan akademis, belakangan ini ada fenomena menarik anak muda (khususnya Gen Z) kembali jatuh cinta sama buku fisik. Fenomena ini bukan lagi sekadar gaya hidup atau pencitraan di media sosial, melainkan sudah menjadi bagian dari identitas dan kebutuhan batin anak muda urban.
Ada alasan mendalam di balik kembalinya gairah membaca ini, mulai dari pelarian dari lelahnya layar gadget, pencarian ruang aman untuk berinteraksi, hingga gerakan sosial untuk merawat ingatan. Yuk, kita ulik kenapa fenomena ini seru banget buat diikuti!
Pelarian dari Screen Fatigue & Sensasi Fisik yang Bikin Ketagihan
Seharian menatap layar laptop buat kuliah atau kerja, lanjut scrolling media sosial tanpa henti, sering kali bikin pikiran jenuh. Di titik inilah buku fisik hadir sebagai tempat rehat (digital detox).
Membaca buku fisik memberikan pengalaman sensorik yang tak tergantikan oleh e-reader atau tablet, mulai dari memegang tekstur kertas, mencium aroma buku baru, hingga bebas membolak-balik halaman sambil mencoret-coret anotasi. Yang paling penting, baca buku fisik itu bebas dari interupsi notifikasi pop-up. Menjauhkan smartphone selama 30 menit saja sambil tenggelam dalam bacaan menjadi bentuk mindfulness yang sangat ampuh.
Toko Buku Indie Third Space untuk Bernapas
Pernah merasa bosan dengan pusat perbelanjaan atau mal yang isinya itu-itu saja? Toko buku independen kini menjadi third space atau ruang ketiga tempat anak muda 'kabur' sejenak dari hiruk-pikuk kota. Toko buku indie menawarkan kurasi buku yang unik, suasana tenang tanpa musik bising, serta ruang aman buat menjadi diri sendiri.
Bukan cuma itu, komunitas seperti Silent Book Club hingga lapak baca gratis di atas tikar (seperti yang menjamur di Bandung, Surabaya, hingga Garut) hadir membuka akses bacaan seluas-luasnya. Buat generasi yang sempat terkurung pandemi, hadir di ruang publik buat baca bareng atau saling bertukar referensi (sharing knowledge) menjadi cara seru menambah kawan baru tanpa tekanan sosial.
Sosok Nabila Putri di Balik Gerakan Baca Publik
Bicara soal geliat anak muda yang makin gemar membaca, nama Nabila Putri jadi salah satu figur yang menarik perhatian. Lantas, siapa sosok Nabila dan bagaimana perjalanan literasinya?
Gadis Surabaya Berlatar Belakang Urban Planning ini lahir dan besar di Surabaya Timur, Nabila merupakan lulusan Perencanaan Wilayah dan Kota (Urban Planning/Planologi) yang sempat bekerja di Kementerian ATR/BPN di Jakarta serta menjadi editor di penerbitan independen. Latar belakang teknik tata kota ini membuatnya tidak cuma melihat membaca sebagai hobi, melainkan juga mengkritik bagaimana tata kota, ketersediaan ruang publik (third space), dan aksesibilitas fasilitas berpengaruh besar pada budaya literasi masyarakat.

Nabila tumbuh di keluarga pembaca. Tanpa pernah dipaksa, minat bacanya tumbuh alami karena terbiasa melihat ibunya melahap novel sastra dan ayahnya membaca koran Kompas setiap pagi.
Siapa sangka, sosok yang rajin membagikan ulasan buku di Instagram ini pernah mengalami masa traumatik. Saat SMA di Surabaya, ia sering di-book shaming dan diejek "caper" hanya karena membawa buku novel ke sekolah. Pengalaman itu sempat membuatnya ragu dan menyembunyikan bacaannya di balik sampul rahasia.
Bukannya berhenti, Nabila yang diakomodasi oleh dukungan keluarganya justru terdorong menginisiasi kegiatan baca bareng Silent Book Club di ruang publik seperti Alun-Alun Surabaya. Ia ingin merangkul orang-orang yang mungkin punya rasa canggung atau trauma serupa agar merasa aman membaca di ruang terbuka.
Dari kacamata tata kota, Nabila secara tegas mengkritik stigma bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah. Menurutnya, masalah utamanya ada pada ketimpangan aksesibilitas dan distribusi bacaan yang belum merata di berbagai daerah.
Membaca Itu Memperluas Ruang Empati & Memahami Sejarah
Bagi Nabila dan banyak Gen Z lainnya, membaca buku pada dasarnya adalah cara memperluas ruang empati. Saat membaca karya fiksi gothic-feminis seperti Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha, kita diajak memahami perjuangan dan konstruksi sosial perempuan. Atau ketika membaca kisah humor-reflektif Born a Crime karya Trevor Noah, kita belajar menemukan rasa syukur dan ketangguhan hidup.
Bahkan, ada fenomena menarik di mana Nabila memiliki ritual tahunan membaca ulang buku sejarah Metode Jakarta karya Vincent Bevins setiap tanggal 30 Agustus hingga 30 September untuk merawat ingatan dan mengasah sudut pandang kritisnya terhadap realitas politik dan sejarah bangsa. Membaca bukan lagi sekadar pelarian, melainkan cara anak muda menavigasi krisis kehidupan (quarter-life crisis) serta memahami dunia dengan lebih bijak.
Baca tulisan lainnya: Pemkot Surabaya Siapkan Rp47 Miliar untuk Pemuda, Ini Peluang Bisnis yang Bisa Dicoba Gen Z
Saatnya Ambil Bukumu!
Membaca tidak harus langsung menuntaskan buku tebal ratusan halaman dalam sehari. Kamu bisa mulai dari 15–30 menit sehari, membaca topik apa saja yang membuatmu penasaranmulai dari novel, sejarah, biografi, hingga komik.
Jadi, akhir pekan ini kamu mau mampir ke toko buku indie lokal mana, nih? Atau tertarik buat menjajal ikutan baca bareng di taman kota terdekat? Selamat menemukan kembali keasyikan membaca!
Kubu