Pemkot Surabaya Siapkan Rp47 Miliar untuk Pemuda, Ini Peluang Bisnis yang Bisa Dicoba Gen Z

SURABAYA – Ada kabar menarik bagi anak muda di Kota Pahlawan. Pemerintah Kota Surabaya mengalokasikan anggaran sekitar Rp47 miliar dalam APBD 2026 untuk mendukung kegiatan pemuda di tingkat Rukun Warga (RW).
Salah satu skema yang disiapkan berupa anggaran Rp5 juta per bulan untuk setiap RW. Namun, dana tersebut bukan ditujukan sekadar untuk menggelar acara atau kegiatan seremonial. Pemerintah Kota Surabaya mendorong agar anggaran dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang mampu menghasilkan pendapatan dan menggerakkan ekonomi pemuda.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi juga menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam memanfaatkan anggaran tersebut. Kelompok pemuda perlu memiliki metode kerja dan rencana usaha yang jelas agar dana yang digunakan dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Lalu, bisnis apa yang bisa dikembangkan anak muda Surabaya?
1. Laundry Profesional untuk Hotel, Restoran, dan Kafe
Salah satu peluang yang secara langsung disebut dalam pembahasan Pemkot Surabaya adalah bisnis laundry untuk sektor Hotel, Restoran, dan Kafe (Horeka).
Peluang ini muncul dari pembicaraan antara kelompok Gen Z di sejumlah wilayah dengan pelaku usaha Horeka. Pemkot mendorong agar anak muda dapat mengelola layanan laundry dengan peralatan yang memenuhi standar kebutuhan sektor tersebut.
Model bisnis ini cukup menarik karena kelompok pemuda tidak hanya mengandalkan pelanggan rumah tangga. Mereka bisa membidik kebutuhan bisnis seperti hotel, restoran, kafe, penginapan, maupun usaha kuliner yang membutuhkan layanan pencucian secara rutin.
Namun, tentu saja bisnis laundry Horeka membutuhkan perencanaan lebih serius. Mulai dari kapasitas mesin, standar kebersihan, tenaga kerja, biaya listrik dan air, hingga sistem pengambilan dan pengiriman harus dihitung sejak awal.
2. Kedai Kopi dengan Konsep yang Jelas
Coffee shop masih menjadi salah satu jenis usaha yang dekat dengan gaya hidup anak muda. Tetapi, membuka kedai kopi bukan berarti cukup dengan menyediakan kopi dan tempat duduk.
Persaingannya cukup tinggi sehingga konsep bisnis perlu dibuat lebih spesifik.
Misalnya, kelompok pemuda bisa mengembangkan kedai yang sekaligus menjadi:
Work from Café bagi pekerja dan mahasiswa
Ruang komunitas anak muda
Tempat live music dan open mic
Creative space untuk kegiatan kreatif
Tempat nongkrong dengan fasilitas gaming
Ruang promosi bagi produk UMKM lokal
Yang penting, konsep tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik lingkungan RW. Kedai di kawasan kampus tentu memiliki karakter konsumen yang berbeda dengan kedai di kawasan permukiman.
Artinya, sebelum membeli peralatan atau menyewa tempat, riset pasar tetap menjadi langkah pertama.
3. Bisnis Makanan Sehat dan Praktis
Peluang berikutnya ada di sektor kuliner. Anak muda bisa mengembangkan bisnis makanan yang sederhana tetapi memiliki nilai tambah, misalnya makanan sehat, praktis, dan mudah dibawa.
Produk seperti ubi kukus, kentang, jagung, edamame, telur, ketela, hingga berbagai makanan sumber protein bisa dikembangkan menjadi menu snack atau makanan ringan.
Model penjualannya pun tidak harus langsung membuka restoran.
Bisa dimulai dari:
Pre-order
Take away
Gerobak atau booth kecil
Penjualan melalui WhatsApp dan media sosial
Layanan pesan antar
Titip jual di kantin atau kedai
Dengan model seperti ini, kelompok pemuda dapat menguji respons pasar terlebih dahulu sebelum memperbesar bisnis.
4. Jasa Digital untuk UMKM
Tidak semua peluang bisnis membutuhkan mesin atau tempat usaha. Bagi Gen Z yang memiliki kemampuan digital, jasa kreatif dan digital marketing juga bisa menjadi pilihan.
Banyak UMKM membutuhkan bantuan untuk membuat konten media sosial, foto produk, video pendek, hingga mengelola akun bisnis.
Beberapa layanan yang bisa dikembangkan antara lain:
Jasa pembuatan konten
Membantu UMKM membuat konten Instagram, TikTok, Facebook, dan platform digital lainnya.Fotografi dan videografi produk
Membuat foto katalog, video promosi, hingga konten pendek untuk kebutuhan pemasaran.Social media management
Membantu pelaku UMKM mengelola akun media sosial secara lebih konsisten.Jasa desain
Membuat poster, katalog digital, kemasan, menu, hingga materi promosi.
Keuntungan model bisnis ini adalah modal awal relatif dapat disesuaikan dengan kemampuan kelompok. Yang lebih penting justru keterampilan, portofolio, jaringan, dan kemampuan mendapatkan klien.
5. Thrifting dan Fashion Berkelanjutan
Bisnis fashion juga dapat menjadi pilihan, terutama dengan memanfaatkan platform digital.
Kelompok pemuda dapat mengembangkan bisnis thrifting dengan konsep yang lebih terkurasi. Misalnya, fokus pada pakaian vintage, pakaian bermerek, outfit anak muda, atau fashion dengan gaya tertentu.
Penjualan bisa dilakukan melalui Instagram, TikTok, marketplace, maupun live shopping.
Namun, aspek kebersihan dan transparansi kondisi barang harus menjadi perhatian. Setiap produk sebaiknya memiliki foto yang jelas dan deskripsi mengenai ukuran, kondisi, serta kekurangan jika memang ada.
Dengan begitu, konsumen tidak hanya membeli pakaian bekas, tetapi mendapatkan pengalaman belanja yang lebih terpercaya.
6. Sesuaikan Bisnis dengan Potensi Setiap RW
Satu hal penting dari program ini adalah tidak semua RW harus menjalankan bisnis yang sama.
Potensi setiap wilayah berbeda. Karena itu, ide usaha sebaiknya berangkat dari kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Misalnya:
RW dekat kawasan kampus
Bisa mengembangkan coffee shop, makanan praktis, laundry, jasa printing, atau jasa digital.RW dekat kawasan hotel dan restoran
Peluang laundry Horeka atau jasa pendukung bisnis kuliner bisa dipertimbangkan.RW dengan banyak pelaku UMKM
Jasa foto produk, desain, digital marketing, dan pengelolaan marketplace bisa menjadi peluang.RW dengan potensi kuliner lokal
Kelompok pemuda dapat membantu mengembangkan produk, kemasan, pemasaran, hingga penjualan online.
Dengan kata lain, modalnya sama-sama tersedia, tetapi ide bisnisnya tidak harus seragam.
Dari RW, Bisa Tumbuh Menjadi Bisnis yang Lebih Besar
Program anggaran pemuda Surabaya ini menunjukkan bahwa kegiatan anak muda di tingkat kampung tidak harus berhenti pada acara atau kegiatan sesaat.
Jika direncanakan dengan baik, kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi unit usaha, sumber pendapatan, sekaligus ruang belajar bisnis bagi anak muda. Namun, semua itu membutuhkan proses.
Bagi Gen Z Surabaya, tantangannya bukan hanya bagaimana mendapatkan modal, tetapi bagaimana mengubah modal tersebut menjadi bisnis yang benar-benar punya pasar dan bisa bertahan.
Kubu