Tren Self Healing: Gaya Hidup Gen Z untuk Jaga Mental dan Produktivitas

Bukan sekadar ikut-ikutan tren, self-healing ala Gen Z ini ternyata punya akar yang kuat pada kondisi mental mereka. Yuk, kita bedah lebih dalam kenapa healing jadi begitu penting dan gimana cara mereka melakukannya tanpa harus bikin kantong bolong.
Kenapa Gen Z Butuh 'Healing'? Ini Kata Data
Hidup sebagai
Gen Z di Indonesia itu unik sekaligus menantang. Mereka adalah generasi pertama
yang sepenuhnya tumbuh besar dengan internet dan media sosial. Di satu sisi,
akses informasi tak terbatas. Di sisi lain, tekanan untuk selalu tampil
sempurna, persaingan akademik dan karier yang ketat, hingga banjir informasi
bikin level stres gampang meroket.
Kondisi ini bukan isapan jempol belaka. Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Kelompok usia 15-24 tahun, yang didominasi oleh Gen Z, memiliki prevalensi depresi tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 2%. Artinya, sekitar 2 dari 100 anak muda di rentang usia tersebut mengalami depresi.

Riset lain
dari IDN
Research Institute juga mengonfirmasi bahwa 51% Gen Z menaruh perhatian
besar pada isu kesehatan mental dan kesejahteraan diri. Angka ini
menunjukkan kesadaran yang tinggi, sekaligus kegelisahan yang nyata. Mereka
sadar bahwa untuk bisa tetap waras dan produktif, mereka perlu
"sesuatu". Dan "sesuatu" itu mereka sebut healing.
Bukan Cuma Jalan-Jalan, Ini Wajah Baru 'Self-Healing'
Gen Z
Lupakan
sejenak citra healing yang identik dengan tiket pesawat dan koper. Gen Z
telah mendefinisikan ulang konsep ini menjadi lebih personal, kreatif, dan
terjangkau. Bagi mereka, healing adalah aktivitas apa pun yang bisa
mengembalikan energi mental dan membuat hati tenang.
Beberapa
tren self-healing yang populer di kalangan Gen Z antara lain:
"Bed Rotting"
(Rebahan Total)
Jangan
salah sangka, ini bukan malas-malasan biasa. "Bed rotting" yang
viral di TikTok adalah praktik sadar untuk menghabiskan waktu di kasur
seharian tanpa rasa bersalah. Tujuannya adalah untuk mengisi ulang energi
sosial dan mental dengan melakukan aktivitas santai seperti nonton serial
favorit, scrolling media sosial, atau sekadar melamun.
"Everything Shower"
Ini adalah ritual mandi yang
di-upgrade menjadi sesi perawatan diri yang komprehensif. Mulai dari
luluran, masker rambut, hingga rutinitas skincare yang lengkap.
Proses ini dianggap sebagai cara untuk memanjakan diri dan melepas penat
setelah hari yang melelahkan.
Digital Detox
Sadar akan dampak negatif
media sosial, banyak Gen Z yang sengaja "puasa" notifikasi.
Mereka mematikan ponsel atau log out dari akun media sosial untuk
satu hari penuh demi mendapatkan ketenangan pikiran.
Hobi Kreatif
Terlibat dalam kegiatan
seperti melukis, menulis jurnal, bermain musik, atau bahkan memasak resep
baru menjadi pelarian yang positif. Aktivitas ini membantu mereka
mengekspresikan diri dan merasakan pencapaian personal.
Nonton Konser dan Fan-girling
Euforia saat menonton musisi
idola atau berkumpul dengan sesama penggemar (fandom) menjadi salah satu
bentuk healing yang ampuh untuk melepaskan stres dan merasakan
kebahagiaan kolektif.
Manfaat Nyata: Dari Mental Tenang Sampai Produktivitas Meningkat
Pertanyaannya,
apakah tren self-healing ini benar-benar berdampak positif? Jawabannya,
iya.
Sebuah studi
yang diterbitkan di Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen pada Mei 2025 mengenai
pengaruh healing terhadap kondisi mental Gen Z di Kota Serang
menyimpulkan bahwa aktivitas healing memiliki pengaruh yang
signifikan dalam membantu proses pemulihan kondisi mental. Kegiatan ini
terbukti berperan dalam mengurangi stres, mengatur kembali emosi, dan
meningkatkan suasana hati secara positif.
Dari sisi
produktivitas, manfaatnya juga terasa. Saat kondisi mental lebih stabil dan
stres berkurang, kemampuan untuk fokus dan berkonsentrasi pun meningkat.
Psikolog juga setuju bahwa aktivitas seperti menulis jurnal harian dapat
meningkatkan kesadaran emosional. Ketika kita lebih mengenali pemicu stres,
kita menjadi lebih mampu mengelolanya, sehingga tidak mengganggu pekerjaan atau
tugas harian.
Sederhananya,
self-healing bekerja seperti tombol restart. Dengan mengambil
jeda sejenak untuk memulihkan energi mental, Gen Z bisa kembali ke rutinitas
mereka dengan pikiran yang lebih jernih dan semangat yang baru.
Sisi Lain: Waspada 'Healing' yang Jadi Bumerang
Meski begitu,
para ahli juga mengingatkan adanya sisi lain dari tren ini. Ada risiko di mana healing
bergeser makna menjadi pelarian (escapism) dari masalah, bukan cara
untuk menyelesaikannya. Selain itu, tekanan untuk menampilkan kegiatan healing
yang "estetik" di media sosial bisa memicu perilaku konsumtif.
Penting
untuk diingat bahwa self-healing bukanlah pengganti bantuan profesional.
Jika perasaan cemas, sedih, atau stres sudah sangat mengganggu dan berlangsung
lama, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang paling
bijak.
Pada akhirnya, tren self-healing di kalangan Gen Z adalah cerminan dari kebutuhan generasi mereka. Ini adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang kreatif untuk menghadapi tekanan hidup yang tak ringan. Selama dilakukan dengan tujuan yang benar yaitu untuk benar-benar memulihkan diri, bukan sekadar gengsi gaya hidup ini adalah langkah positif untuk menciptakan generasi yang lebih sadar akan kesehatan mental dan, pada akhirnya, lebih produktif.
Kubu