Berita Terkini

Tolak Jadi Budak Korporat, Gen Z Tiongkok Pilih Gaya Hidup Rebahan yang Bikin Pemerintah Ketakutan

27 Jul 2026
Tolak Jadi Budak Korporat, Gen Z Tiongkok Pilih Gaya Hidup Rebahan yang Bikin Pemerintah Ketakutan

Fenomena ini bukanlah tanda kemalasan, melainkan sebuah respons logis terhadap sistem kerja yang dianggap sudah rusak. Mari kita bedah fakta-fakta mengejutkan dan kisah nyata di balik fenomena unik ini.

Fakta dan Data Mencengangkan: Lulusan S2 Jadi Kurir hingga Jutaan Anak Muda Jadi Tunawisma

Realitas di lapangan menunjukkan angka-angka yang membuat pemerintah Tiongkok sangat ketakutan. Berikut adalah beberapa data mencengangkan dari fenomena ini:

  • Tingkat pengangguran pemuda diperkirakan mencapai 46,5% (jika pelajar tidak dihitung). Ini berarti hampir separuh dari generasi muda menolak atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

  • Terdapat 70.000 lulusan S2 (Gelar Master) yang banting setir menjadi kurir pengantar makanan. Bayangkan, belajar mati-matian selama 18 tahun di bawah sistem pendidikan Tiongkok yang brutal, hanya untuk berakhir mengayuh sepeda mengantar makanan.

  • Data pemerintah baru-baru ini mengungkap ada 47,5 juta tunawisma di Tiongkok, dan 61% di antaranya berusia di bawah 33 tahun. Mereka adalah orang-orang waras dan logis yang sudah berhitung dan menyimpulkan bahwa menjadi gelandangan masih lebih baik daripada menjadi "budak korporat".

Akar Masalah: Budaya "996" yang Mencekik

Mengapa anak muda Tiongkok yang dulunya dikenal sangat pekerja keras kini memilih menyerah? Jawabannya ada pada budaya kerja 996 (bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam, 6 hari dalam seminggu). Sistem ini sangat umum diterapkan di perusahaan teknologi top Tiongkok, di mana kehidupan karyawan sepenuhnya tersita untuk perusahaan.

Sayangnya, persaingan yang terlampau ketat membuat jam kerja ekstrem ini tidak lagi menjanjikan promosi atau kekayaan. Kerja keras berlebihan kini hanyalah "standar normal" yang diekspektasikan dari setiap karyawan. Ketika kerja keras hanya membuat para elite semakin kaya, sementara kaum muda semakin sulit membeli rumah atau sekadar menikmati hidup, Gen Z mulai bertanya: "Jika berlari lebih cepat tidak membawa kita ke mana-mana, untuk apa kita berlari?".

Mengenal "Tangping" dan "Bailan": Protes Sunyi Gen Z

Karena mengkritik sistem secara terbuka atau melakukan demonstrasi bisa berujung pada penangkapan dan sensor dari pemerintah, Gen Z menemukan cara protes yang paling aman namun mematikan yaitu berhenti berkontribusi.

Gerakan ini dimulai pada tahun 2021 dengan istilah "Tangping" (Laying Flat / Rebahan). Ini adalah filosofi hidup untuk menekan keinginan (low desire), menolak gaya hidup konsumtif, dan memprioritaskan kesehatan mental di atas ekspektasi bos atau masyarakat. Banyak dari mereka memilih hidup hemat, mengurangi jam kerja, atau bahkan menjadi "Anak Penuh Waktu" yang digaji oleh orang tua mereka sendiri untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Belakangan, muncul ideologi yang lebih ekstrem bernama "Bailan" (Biarkan Membusuk). Diambil dari istilah olahraga basket yang berarti "kita sudah kalah, jadi berhentilah mencoba", penganut Bailan memilih untuk sama sekali tidak membeli rumah, tidak mengejar karir, dan tidak berkeluarga.

Kisah Nyata: Mantan Engineer AI yang Memilih Jadi Kuli Digital di Atap Sempit

Contoh nyata dari fenomena ini adalah Jared, pemuda 28 tahun yang dulunya bekerja sebagai engineer Artificial Intelligence (AI) di sebuah perusahaan teknologi raksasa. Merasa muak dengan racun budaya 996, Jared menghancurkan pekerjaan mapannya demi menjadi freelancer.

Kini, ia tinggal bersama istrinya di sebuah bangunan ilegal di atas atap sebuah apartemen tua di Chengdu. Ruangan itu tidak ber-AC, atapnya bocor, dan ia hanya membayar sewa sekitar $140 (Rp 2,2 juta) per bulan. Untuk bertahan dari panasnya musim panas, ia bahkan merakit sendiri sistem pendingin air manual.

Penghasilan Jared sebagai freelancer merosot tajam akibat perkembangan AI yang membuat harga jasanya turun drastis, sehingga total penghasilannya bersama sang istri kini hanya sekitar $1.000 per bulan. Untuk menyambung hidup, mantan engineer AI ini kini bekerja paruh waktu sebagai kurir pengantar makanan di malam hari.

Meskipun harus menembus hujan deras di malam hari demi upah yang tak seberapa, Jared mengaku tidak menyesal. "Setelah kamu mencicipi kebebasan, kamu tidak akan pernah bisa kembali," tuturnya. Baginya, kebebasan tanpa omelan bos jauh lebih berharga, meskipun ia harus kehilangan stabilitas finansial.

Bagaimana Respons Pemerintah Tiongkok?

Pemerintah Partai Komunis Tiongkok (CCP) jelas sangat ketakutan melihat tren ini. Sebuah negara butuh tenaga kerja yang produktif untuk mencapai tujuan ekonominya. Sebagai respons, pemerintah mencoba menyensor kata Tangping dan Bailan dari seluruh platform media sosial serta menutup grup-grup diskusi online. Berbagai artikel dari media pemerintah pun diterbitkan untuk mempermalukan gerakan ini, menyebut para pemuda ini sebagai individu yang egois dan pemalas.

Generasi Boomer dan Gen X di Tiongkok juga mengkritik generasi muda yang dianggap lemah. Namun mereka lupa, Gen Z saat ini hidup di dunia yang sangat berbeda. Di masa lalu, kerja keras benar-benar bisa membuahkan hasil berupa rumah dan kehidupan yang mapan; namun saat ini, mimpi-mimpi tersebut nyaris mustahil dicapai.

Pada akhirnya, menyensor media sosial tidak akan memadamkan gerakan ini. Gen Z di Tiongkok telah mengirimkan pesan yang sangat jelas: "Jika pemerintah dan perusahaan tidak memperbaiki sistem yang rusak ini, kami menolak untuk bekerja.". Mereka menuntut dihapuskannya budaya 996, harga properti yang lebih masuk akal, dan upah yang layak agar pekerjaan mereka kembali memiliki makna.