Berita Terkini Jakarta

Realita Lulusan SMK di Jakarta: Berjuang Berburu Kerja di Tengah Syarat Pengalaman dan Stigma

10 Sep 2026
Realita Lulusan SMK di Jakarta: Berjuang Berburu Kerja di Tengah Syarat Pengalaman dan Stigma

Mencari pekerjaan di ibu kota Jakarta ternyata tidak cukup hanya mengandalkan ijazah sekolah dan keterampilan teknis. Banyak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus menelan pil pahit karena terhalang syarat pengalaman kerja, meskipun status mereka masih fresh graduate. Potret persaingan kerja yang ketat ini terlihat jelas dalam gelaran Jakarta Job Fair di Balai Prajurit Ragunan yang dipadati para pencari kerja.

Berburu Sertifikasi demi Dilirik Perusahaan

Di tengah lautan pencari kerja tersebut, ada sosok Aris Manui Prasetyo yang melangkah penuh harapan. Pemuda kelahiran tahun 2007 ini merupakan lulusan SMK Negeri 52 Jakarta jurusan Teknik Permesinan tahun kelulusan 2025. Sadar bahwa dirinya minim pengalaman kerja, Aris tidak tinggal diam begitu saja setelah lulus.

Ia memilih mengisi waktunya dengan mengikuti berbagai pelatihan dan mengumpulkan sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi yang berhasil diraihnya meliputi bidang AC sentral hingga elektronika industri. Aris bahkan berani banting setir mempelajari bidang desain grafis dengan harapan ada perusahaan yang tertarik melirik keahliannya.

Namun, perjalanan mencari kerja tidak selalu mulus. Rentetan penolakan sempat membuat Aris merasa insecure dan rendah diri, terutama saat melihat teman-teman sebayanya sudah mulai bekerja. Tekanan ini makin terasa berat dengan munculnya stigma di masyarakat bahwa mencari kerja saat ini minimal harus berpendidikan Diploma 3 (D3), memiliki koneksi "orang dalam", atau bahkan menyediakan uang.

Pantang Menyerah: "Beri Kami Kesempatan Tes Skill!"

Meskipun harus menghadapi tekanan tersebut, Aris menolak untuk menyerah pada keadaan. Di bursa kerja Balai Prajurit Ragunan, ia memperluas peluang dengan melamar ke berbagai tempat, mulai dari perusahaan retail Indomaret hingga posisi teknisi di PT BSS dan PT Infomedia.

Sebagai anak muda lulusan SMK, Aris menitipkan pesan penting kepada para pemilik perusahaan dan pihak rekrutmen. Ia berharap lowongan kerja di bidang teknik mesin dan bagian AC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning / HVAC) dapat lebih diperbanyak. Pasalnya, ia mengaku cukup kesulitan menemukan lowongan yang sesuai dengan bakat utamanya di bidang tersebut.

Selain itu, mayoritas perusahaan saat ini menetapkan syarat minimal pengalaman kerja 1 tahun untuk posisi teknisi maupun engineer. Aris pun memohon agar para pemberi kerja mau memberikan uji kemampuan (test skill) bagi para fresh graduate. Dengan begitu, perusahaan bisa melihat secara langsung seberapa hebat potensi dan kemampuan nyata yang dimiliki oleh lulusan SMK. Aris juga berharap Pemprov DKI Jakarta dapat menyediakan variasi lowongan teknis yang lebih beragam pada pameran bursa kerja berikutnya.

Angin Segar: Peluang Kerja Luar Negeri Lewat Program SMK Go Global

Di tengah sulitnya menembus pasar kerja lokal, ada kabar baik dan angin segar bagi para lulusan vokasi di Indonesia. Pemerintah terus mendorong lulusan SMK untuk menjajal pasar kerja internasional melalui program bertajuk "SMK Go Global". Program ini dirancang khusus untuk menjadi jembatan bagi lulusan SMK agar bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri.

Program SMK Go Global ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan sesuai dengan standar industri global. Disampaikan oleh Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Kristina Aryani, program ini menargetkan penempatan 500.000 Tenaga Kerja Indonesia secara bertahap hingga tahun 2029. Target besar ini terdiri dari 300.000 lulusan SMK dan 200.000 tenaga kerja dari masyarakat umum.

Pemerintah menargetkan penempatan 40.000 tenaga kerja pada tahun 2026, yang kemudian meningkat menjadi 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029. Sektor yang dibuka pun sangat beragam, mulai dari tukang las (welder), perawat (caregiver), sopir bus dan truk, hingga bidang hospitality. Negara tujuannya mencakup Jepang, Korea Selatan, Jerman, Malaysia, Singapura, kawasan Eropa, Turki, hingga Taiwan.

Menariknya lagi, pendaftaran program ini tidak dipungut biaya alias gratis. Untuk tahun 2026, pelaksanaan gelombang pertama telah meloloskan 3.340 peserta yang tersebar di 167 kelas dan 20 wilayah kerja BP3MI. Pendaftaran untuk gelombang ketiga batch 1 pun masih dibuka hingga 11 September 2026. Peluang emas ini tentu menjadi jalan baru bagi lulusan SMK yang ingin membuktikan keahlian mereka di kancah internasional