Lifestyle

Nggak Cuma FOMO, Ternyata Ini Alasan Gen Z Hobi Investasi Kripto Sejak Dini

Super Admin
30 Jan 2026
Nggak Cuma FOMO, Ternyata Ini Alasan Gen Z Hobi Investasi Kripto Sejak Dini

Pernah kepikiran nggak kenapa anak-anak zaman sekarang khususnya Gen Z kelihatannya lebih berani ambil risiko soal duit? Kalau dulu orang tua kita lebih suka simpan uang di deposito atau emas, Gen Z justru sudah "nyemplung" ke dunia kripto bahkan sebelum mereka punya pekerjaan tetap.

Laporan terbaru dari World Economic Forum (WEF) 2026 mengungkap fenomena menarik nih. Ternyata, cara pandang Gen Z terhadap investasi itu beda banget dan dipengaruhi oleh satu faktor besar yaitu Kepercayaan (Trust).

Yuk, kita bedah kenapa Gen Z punya gaya investasi yang unik dan apa yang bikin mereka beda!

Mulai Investasi Sejak Dini

Bayangkan, sekitar sepertiga Gen Z sudah mulai belajar investasi sejak masa kuliah atau awal masa dewasa. Angka ini dua kali lipat lebih cepat dibanding generasi Milenial di usia yang sama. Bahkan, 50% dari mereka sudah tahu dasar-dasar investasi sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja.

Kenapa buru-buru? Karena Gen Z sadar bahwa mereka nggak bisa cuma mengandalkan dana pensiun dari kantor atau jaminan pemerintah di masa depan. Mereka merasa harus bertanggung jawab penuh atas kemapanan finansial mereka sendiri.

Kripto adalah "the Ninja Way"

Bagi Gen Z, diversifikasi tradisional itu membosankan. Laporan WEF menyebutkan bahwa 71% investor Gen Z punya portofolio yang mana sepertiganya adalah aset kripto atau produk alternatif lainnya. Mereka lebih suka produk yang kompleks dan punya potensi return tinggi, meski risikonya juga bikin senam jantung.

Lebih Percaya AI dan "Finfluencer"

Ini bagian yang paling menarik. Gen Z punya trust issue dengan institusi finansial tradisional. Sekitar 20% Gen Z yang nggak investasi mengaku alasannya karena mereka nggak percaya sama bank atau lembaga keuangan.

Sebagai gantinya, mereka lebih nyaman curhat soal duit ke teknologi. Sekitar 40% Gen Z merasa oke-oke saja kalau investasinya dikelola oleh AI (Artificial Intelligence), jauh lebih tinggi dibanding generasi Baby Boomers yang cuma 14%. Selain itu, mereka lebih suka belajar dari Finfluencer (Financial Influencer) di media sosial yang bahasanya lebih gampang dimengerti dan gratis!

Tantangan "Financial Nihilism"

Ada sisi gelapnya juga, nih. Muncul tren yang namanya economic nihilism. Ini adalah kondisi di mana sebagian anak muda merasa nggak akan pernah mampu beli rumah atau mencapai target finansial tradisional karena kondisi ekonomi yang makin sulit. Alhasil, mereka jadi lebih berani "judi" di aset berisiko tinggi karena merasa nggak ada ruginya.

Terus, Apa Solusinya?

Agar dunia finansial makin inklusif, WEF menyarankan beberapa hal:

  • Transparansi adalah Kunci
    Perusahaan finansial harus lebih terbuka soal biaya dan cara kerja produk mereka.

  • Edukasi Sejak Sekolah
    Literasi keuangan harus diajarkan lebih awal agar anak muda nggak cuma ikut-ikutan tren (FOMO).

  • UI/UX yang Menarik
    Aplikasi investasi harus gampang dipakai dan terasa personal, bukan kaku seperti formulir bank zaman dulu.

Dunia finansial memang lagi berubah drastis, dan kitalah supirnya. Tapi inget, se-canggih apa pun AI-nya atau se-keren apa pun saran influencer-nya, riset sendiri itu wajib. Jangan cuma FOMO (ikut-ikutan) tanpa tahu barang yang dibeli.

Investasi itu marathon, bukan sprint. AI dan teknologi cuma alat, tapi kendali tetap ada di jempol kamu. Kalau kamu sendiri gimana? Tim konservatif yang main aman di reksa dana, atau tim "Gaspol" di aset kripto?