Nggak Cuma FOMO, Ternyata Ini Alasan Gen Z Hobi Investasi Kripto Sejak Dini

Pernah kepikiran nggak kenapa anak-anak zaman sekarang khususnya Gen Z kelihatannya
lebih berani ambil risiko soal duit? Kalau dulu orang tua kita lebih suka
simpan uang di deposito atau emas, Gen Z justru sudah "nyemplung" ke
dunia kripto bahkan sebelum mereka punya pekerjaan tetap.
Laporan
terbaru dari World Economic Forum (WEF) 2026 mengungkap fenomena menarik
nih. Ternyata, cara pandang Gen Z terhadap investasi itu beda banget dan dipengaruhi
oleh satu faktor besar yaitu Kepercayaan
(Trust).
Yuk, kita
bedah kenapa Gen Z punya gaya investasi yang unik dan apa yang bikin mereka
beda!
Mulai Investasi Sejak Dini
Bayangkan,
sekitar sepertiga Gen Z sudah mulai belajar investasi sejak masa kuliah atau
awal masa dewasa. Angka ini dua kali lipat lebih cepat dibanding generasi
Milenial di usia yang sama. Bahkan, 50% dari mereka sudah tahu dasar-dasar
investasi sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja.
Kenapa
buru-buru? Karena Gen Z sadar bahwa mereka nggak bisa cuma mengandalkan dana
pensiun dari kantor atau jaminan pemerintah di masa depan. Mereka merasa harus
bertanggung jawab penuh atas kemapanan finansial mereka sendiri.
Kripto adalah "the Ninja Way"
Bagi Gen Z,
diversifikasi tradisional itu membosankan. Laporan WEF menyebutkan bahwa 71%
investor Gen Z punya portofolio yang mana sepertiganya adalah aset kripto atau
produk alternatif lainnya. Mereka lebih suka produk yang kompleks dan punya
potensi return tinggi, meski risikonya juga bikin senam jantung.
Lebih Percaya AI dan "Finfluencer"
Ini bagian
yang paling menarik. Gen Z punya trust issue dengan institusi finansial
tradisional. Sekitar 20% Gen Z yang nggak investasi mengaku alasannya karena
mereka nggak percaya sama bank atau lembaga keuangan.
Sebagai
gantinya, mereka lebih nyaman curhat soal duit ke teknologi. Sekitar 40% Gen Z
merasa oke-oke saja kalau investasinya dikelola oleh AI (Artificial
Intelligence), jauh lebih tinggi dibanding generasi Baby Boomers yang cuma
14%. Selain itu, mereka lebih suka belajar dari Finfluencer (Financial
Influencer) di media sosial yang bahasanya lebih gampang dimengerti dan gratis!
Tantangan "Financial Nihilism"
Ada sisi
gelapnya juga, nih. Muncul tren yang namanya economic nihilism. Ini adalah
kondisi di mana sebagian anak muda merasa nggak akan pernah mampu beli rumah
atau mencapai target finansial tradisional karena kondisi ekonomi yang makin
sulit. Alhasil, mereka jadi lebih berani "judi" di aset berisiko
tinggi karena merasa nggak ada ruginya.
Terus, Apa Solusinya?
Agar dunia
finansial makin inklusif, WEF menyarankan beberapa hal:
- Transparansi adalah Kunci
Perusahaan finansial harus lebih terbuka soal biaya dan cara kerja produk mereka. - Edukasi Sejak Sekolah
Literasi keuangan harus diajarkan lebih awal agar anak muda nggak cuma ikut-ikutan tren (FOMO). - UI/UX yang Menarik
Aplikasi investasi harus gampang dipakai dan terasa personal, bukan kaku seperti formulir bank zaman dulu.
Dunia finansial memang lagi berubah drastis, dan kitalah supirnya. Tapi
inget, se-canggih apa pun AI-nya atau se-keren apa pun saran influencer-nya, riset sendiri
itu wajib. Jangan cuma FOMO
(ikut-ikutan) tanpa tahu barang yang dibeli.
Investasi itu marathon, bukan sprint. AI dan teknologi cuma alat, tapi kendali tetap ada di jempol kamu. Kalau kamu sendiri gimana? Tim konservatif yang main aman di reksa dana, atau tim "Gaspol" di aset kripto?
Kubu