Ragam Karir

Jangan Cuma Kejar IPK! Kuliah Itu Untuk Economic Survival, Bukan Gaya-gayaan.

Super Admin
5 Mei 2026
Jangan Cuma Kejar IPK! Kuliah Itu Untuk Economic Survival, Bukan Gaya-gayaan.

Menurut Darmono, masalah utamanya bukan pada kecerdasan mahasiswa, melainkan pada ketidakseimbangan supply and demand serta pola pikir yang salah tentang tujuan pendidikan.

Pendidikan Bukan Tentang Gelar, Tapi Economic Survival


Dalam wawancara tersebut, Darmono menekankan bahwa pendidikan seharusnya menjadi landasan untuk "Economic Survival", yaitu kemampuan seseorang untuk bertahan secara ekonomi dan mandiri.

"Sekolah di kampus atau politeknik itu bukan untuk mencari IP atau gelar, tapi seberapa terampil mereka (mahasiswi/mahasiswa) untuk bertahan secara ekonomi," tegas Darmono.

Ia menyayangkan banyaknya orang tua yang memaksa anak masuk universitas demi gengsi gelar, padahal dunia kerja saat ini justru lebih membutuhkan lulusan vokasi seperti politeknik atau SMK.


Belajar dari China: Batasi Universitas, Perbanyak Vokasi

Darmono membandingkan kondisi Indonesia dengan China. Puluhan tahun lalu, China mengalami euforia universitas yang berujung pada tingginya angka pengangguran. Namun, mereka cepat berbenah.

Kini, China membatasi hanya anak-anak yang benar-benar pandai secara akademis yang boleh masuk universitas. Sisanya diarahkan ke sekolah teknik dan politeknik. Hasilnya? Tenaga kerja mereka terserap maksimal karena sesuai dengan kebutuhan industri.

Peluang Kerja 'Caregiver' dan Tenaga Medis

Salah satu solusi konkret yang ditawarkan Darmono adalah melihat pasar kerja dunia, bukan hanya dalam negeri. Ia menyoroti tingginya kebutuhan akan caregiver (perawat lansia) di negara-negara maju seperti Jepang yang populasi lansianya membludak.

Meskipun profesi ini sering dipandang sebelah mata karena gengsi, Darmono mengungkapkan fakta mengejutkan: "Gaji caregiver di luar negeri itu bisa tembus Rp20-30 juta per bulan." Jika kurikulum pendidikan kita diarahkan untuk memenuhi kebutuhan global ini, masalah pengangguran bisa teratasi sekaligus mendatangkan devisa lewat diaspora.

Peran Orang Tua dan Pemerintah

Darmono menyebutkan dua kunci utama untuk memperbaiki mismatch pendidikan di Indonesia.

  1. Pemerintah harusnya berani mengatur regulasi supply and demand. Jangan mempermudah izin universitas jika lulusannya tidak dibutuhkan pasar, sebaliknya permudah izin fakultas kedokteran atau teknik yang permintaannya tinggi.

  2. Orang Tua jangan hanya mengejar IPK tinggi. Ajarkan anak untuk bisa mencari uang sejak dini (jiwa kewirausahaan), bahkan dari hal sederhana sekalipun.


Menghadapi era AI, gelar formal saja tidak lagi cukup. Fokus pendidikan harus bergeser dari sekadar "lulus dan dapat ijazah" menjadi "memiliki skill yang laku dijual". Seperti pesan penutup dari Darmono, tujuan sekolah adalah membuat seseorang siap bekerja di mana pun di dunia dengan cara yang terhormat.