Jangan Cuma Kejar IPK! Kuliah Itu Untuk Economic Survival, Bukan Gaya-gayaan.

Menurut
Darmono, masalah utamanya bukan pada kecerdasan mahasiswa, melainkan pada
ketidakseimbangan supply and demand serta pola pikir yang salah tentang
tujuan pendidikan.
Pendidikan Bukan Tentang Gelar, Tapi Economic Survival
Dalam
wawancara tersebut, Darmono menekankan bahwa pendidikan seharusnya menjadi
landasan untuk "Economic
Survival", yaitu kemampuan seseorang untuk bertahan secara ekonomi
dan mandiri.
"Sekolah di kampus atau politeknik itu bukan untuk mencari IP atau gelar, tapi seberapa terampil mereka (mahasiswi/mahasiswa) untuk bertahan secara ekonomi," tegas Darmono.
Ia menyayangkan banyaknya orang tua yang memaksa anak masuk universitas demi gengsi gelar, padahal dunia kerja saat ini justru lebih membutuhkan lulusan vokasi seperti politeknik atau SMK.
Belajar dari China: Batasi Universitas, Perbanyak
Vokasi
Darmono membandingkan kondisi Indonesia dengan China. Puluhan tahun lalu, China mengalami euforia universitas yang berujung pada tingginya angka pengangguran. Namun, mereka cepat berbenah.
Kini, China
membatasi hanya anak-anak yang benar-benar pandai secara akademis yang boleh
masuk universitas. Sisanya diarahkan ke sekolah teknik dan politeknik.
Hasilnya? Tenaga kerja mereka terserap maksimal karena sesuai dengan kebutuhan
industri.
Peluang Kerja 'Caregiver'
dan Tenaga Medis
Salah satu
solusi konkret yang ditawarkan Darmono adalah melihat pasar kerja dunia, bukan
hanya dalam negeri. Ia menyoroti tingginya kebutuhan akan caregiver
(perawat lansia) di negara-negara maju seperti Jepang yang populasi lansianya
membludak.
Meskipun
profesi ini sering dipandang sebelah mata karena gengsi, Darmono mengungkapkan
fakta mengejutkan: "Gaji caregiver di luar negeri itu bisa tembus
Rp20-30 juta per bulan." Jika kurikulum pendidikan kita diarahkan
untuk memenuhi kebutuhan global ini, masalah pengangguran bisa teratasi
sekaligus mendatangkan devisa lewat diaspora.
Peran Orang Tua dan Pemerintah
Darmono
menyebutkan dua kunci utama untuk memperbaiki mismatch pendidikan di
Indonesia.
- Pemerintah harusnya berani mengatur
regulasi supply and demand. Jangan mempermudah izin universitas
jika lulusannya tidak dibutuhkan pasar, sebaliknya permudah izin fakultas
kedokteran atau teknik yang permintaannya tinggi.
- Orang Tua jangan hanya mengejar IPK
tinggi. Ajarkan anak untuk bisa mencari uang sejak dini (jiwa
kewirausahaan), bahkan dari hal sederhana sekalipun.
Menghadapi era AI, gelar formal saja tidak lagi cukup. Fokus pendidikan harus bergeser dari sekadar "lulus dan dapat ijazah" menjadi "memiliki skill yang laku dijual". Seperti pesan penutup dari Darmono, tujuan sekolah adalah membuat seseorang siap bekerja di mana pun di dunia dengan cara yang terhormat.
Kubu