Lifestyle

Fenomena 'Quiet Quitting' di Kalangan Gen Z: Emang Beneran Bikin Hidup Lebih Santai?

Super Admin
22 Sep 2025
Fenomena 'Quiet Quitting' di Kalangan Gen Z: Emang Beneran Bikin Hidup Lebih Santai?

Apa Itu 'Quiet Quitting' ? Definisi yang Sering Salah Paham

Secara harfiah, "quiet quitting" bukan berarti Anda mengundurkan diri dari pekerjaan. Istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang hanya akan bekerja sesuai dengan deskripsi tugasnya (job description) dan menolak untuk melakukan hal-hal di luar itu. Mereka tetap produktif, tapi tidak lagi "berjuang" untuk melakukan hal-hal di luar jam kerja, seperti menjawab chat atasan di malam hari, mengambil proyek tambahan yang tidak dibayar, atau sekadar datang ke kantor lebih awal.

Intinya, quiet quitting adalah tentang menarik batasan yang jelas antara kehidupan pribadi dan profesional. Ini adalah respons terhadap budaya kerja lama yang mengagungkan "berusaha lebih" dan "pengorbanan" demi karier, tanpa imbalan yang sepadan.

Mengapa 'Quiet Quitting' Jadi Pilihan Utama Gen Z?

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa alasan kuat yang melatarbelakanginya, terutama bagi Gen Z:

1. Reaksi Terhadap Burnout

Pandemi Covid-19 memaksa banyak orang untuk bekerja tanpa batas waktu dan ruang. Hasilnya, tingkat burnout (kelelahan fisik dan mental) melonjak. Quiet quitting menjadi semacam mekanisme pertahanan diri untuk menghindari kelelahan ekstrem tersebut.

2. Mengutamakan Work-Life Balance

Bagi Gen Z, hidup bukan hanya tentang pekerjaan. Mereka memandang bahwa kesehatan mental, waktu untuk hobi, dan hubungan sosial sama pentingnya, bahkan seringkali lebih penting daripada sekadar mengejar promosi.

3.Realitas Stagnasi Karier

Data menunjukkan bahwa di banyak industri, kenaikan gaji dan jabatan tidak selalu sebanding dengan upaya ekstra yang diberikan. Melihat realitas ini, banyak anak muda merasa lebih baik menghemat energi untuk hal lain daripada "berkorban" demi sesuatu yang belum tentu membuahkan hasil.

4. Prioritas Work-Life Balance

Sebuah survei dari JobStreet (2023) mengungkapkan bahwa 43% responden di Indonesia menjadikan work-life balance sebagai prioritas utama dalam memilih pekerjaan. Angka ini setara dengan prioritas pada jenjang karier, menunjukkan bahwa gaji tinggi dan jabatan bukan lagi satu-satunya motivasi utama bagi karyawan muda.


Dampak 'Quiet Quitting' bagi Karyawan dan Perusahaan

Lalu, apakah quiet quitting benar-benar bikin hidup lebih santai? Jawabannya bisa jadi iya, tapi ada konsekuensinya.

Bagi Karyawan

Di satu sisi, quiet quitting dapat mengurangi tingkat stres dan burnout, memberi ruang bagi kehidupan pribadi, dan meningkatkan kesehatan mental. Namun, di sisi lain, sikap ini bisa membuat Anda kehilangan kesempatan untuk belajar hal baru, sulit mendapatkan promosi, dan berpotensi membuat karier Anda stagnan dalam jangka panjang.

Bagi Perusahaan

Fenomena ini adalah sinyal penting bahwa ada yang salah dengan budaya kerja. Perusahaan yang mengabaikannya berisiko menghadapi penurunan produktivitas, inovasi yang mandek, dan tingginya tingkat turnover karyawan.

'Quiet Quitting' Bukan Solusi, tapi Sinyal Penting!


Pada akhirnya, quiet quitting bukanlah solusi permanen untuk semua masalah di tempat kerja. Ini lebih seperti mekanisme pertahanan yang menunjukkan bahwa model kerja lama sudah tidak relevan.


Bagi Anda sebagai karyawan, cobalah untuk tidak sekadar "pasrah" dengan kondisi ini. Gunakan energi Anda untuk berkomunikasi secara terbuka dengan atasan tentang harapan dan batasan Anda. Sementara bagi perusahaan, ini adalah momen untuk mengevaluasi ulang kebijakan, memberikan kompensasi yang adil, serta mendukung kesejahteraan karyawan secara nyata.


Dengan demikian, "hidup lebih santai" bukan lagi menjadi fenomena pasif, melainkan hasil dari hubungan kerja yang sehat dan saling menghargai.