Berita Terkini

Data Google Bongkar Tren 2025: Peluang Karir di Era Agentic AI dan Video Commerce

Super Admin
19 Des 2025
Data Google Bongkar Tren 2025: Peluang Karir di Era Agentic AI dan Video Commerce

Dalam diskusi di kanal Youtube Intrigue bersama Rhenald Kasali, Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, membongkar fakta bahwa perilaku ekonomi Indonesia sudah berubah total. Ini bukan lagi soal ekonomi fisik yang terlihat di pasar tanah abang, tapi ekonomi "invisible" yang terjadi di layar HP.

Lantas, apa artinya angka-angka raksasa ini bagi nasib karir kita? Berikut adalah 4 sinyal perubahan karir yang wajib Anda tangkap jika ingin tetap relevan.

"Video Commerce" Bukan Sekadar Joget, Ini Hard Skill Baru

Data menunjukkan transaksi video commerce di Indonesia tumbuh 90% per tahun dengan 2,6 miliar transaksi. Ini adalah yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.


Jika Anda bekerja di bidang Sales, Marketing, atau Komunikasi, kemampuan public speaking konvensional saja tidak cukup. Anda harus menguasai "Shoppertainment". Perusahaan tidak lagi mencari sales yang pandai mengetuk pintu rumah, tapi talenta yang bisa membangun trust dan engagement lewat layar. Skill storytelling digital, live hosting, dan manajemen afiliasi kini menjadi kompetensi inti, bukan lagi sekadar side job iseng.


Jangan Cuma Jadi Pengguna AI, Jadilah "AI Manager"

Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara dengan adopsi AI tertinggi di dunia. Bahkan pendapatan aplikasi berfitur AI naik 127%. Namun, Rhenald Kasali mengingatkan adanya pergeseran dari Generative AI (membuat konten) menuju "Agentic AI" (AI yang bisa mengeksekusi tugas).

Posisi administratif yang sifatnya repetitif (input data, penjadwalan dasar, basic copywriting) berada di ujung tanduk karena akan diambil alih oleh Agentic AI. Agar "selamat", Anda harus naik level menjadi AI Manager. Jangan bangga hanya karena bisa pakai ChatGPT. Karir masa depan adalah milik mereka yang mampu:

  • Memberikan instruksi kompleks (Prompt Engineering tingkat lanjut).
  • Mengkurasi hasil kerja AI (Quality Control).
  • Mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja bisnis untuk efisiensi.


Peluang Emas di Tengah Kesenjangan "Maker" vs "User"

Ada data yang menohok, Singapura memiliki 495 startup AI, sementara Indonesia baru memiliki sekitar 45. Padahal pasar terbesarnya ada di sini.

Ini adalah celah peluang karir terbesar bagi talenta IT dan Business Development. Kita kebanjiran konsumen, tapi kekurangan "pembuat". Bagi Anda yang berjiwa entrepreneur atau intrapreneur di korporat, fokuslah menciptakan solusi. Jangan hanya puas menjadi pasar. Perusahaan teknologi akan berebut mencari talenta yang memiliki product mindset, orang yang tidak hanya bisa koding, tapi bisa menciptakan solusi yang bisa dimonetisasi.

Kematian "Silo", Kebangkitan "Ekosistem"

Veronica Utami menyebutkan bahwa persaingan bisnis saat ini bukan lagi antar produk, tapi antar Ekosistem (contoh: Ekosistem BCA, Ekosistem Google/YouTube).

Di dunia kerja, spesialisasi yang terlalu sempit bisa berbahaya. Anda perlu memiliki "Ecosystem Thinking". Seorang akuntan harus paham teknologi. Seorang programmer harus paham alur bisnis. Profesional yang paling dicari adalah Generalist-Specialist (T-Shaped talent) yang bisa menghubungkan titik-titik (connecting the dots) antar departemen dan memahami bagaimana peran mereka berdampak pada ekosistem perusahaan secara luas.

Kesimpulan: Stay Relevant or Obsolete

Seperti kata Rhenald Kasali, "Relevansi itu harus terus kita keep." Ekonom mungkin tidak melihat pergerakan uang di dunia digital, tapi Anda sebagai profesional tidak boleh buta. Uang US$ 100 miliar itu sedang mengalir deras di atas kepala kita. Pertanyaannya, Apakah ember karir Anda sudah siap menampungnya, atau masih bocor karena skill yang kadaluwarsa?

Jangan biarkan ketakutan akan teknologi melumpuhkan langkah, karena sejatinya, mesin diciptakan untuk membantu kita berpikir, bukan untuk menggantikan kita bermimpi. Mulailah beradaptasi hari ini, karena investasi terbaik di tengah gelombang ketidakpastian bukanlah pada alat yang kita beli, melainkan pada leher ke atas yang terus kita isi.