Bukan Soal Gaji Kecil, Ini Alasan Kenapa 70% Orang Indonesia Susah Punya Tabungan

Banyak dari kita sering bergumam, "Nanti kalau gaji sudah naik, saya pasti rajin
nabung." Namun kenyataannya, data berbicara lain. Berdasarkan
statistik terbaru yang diungkapkan oleh praktisi keuangan Ninda Fer, sekitar
70% orang Indonesia ternyata tidak memiliki tabungan sama sekali. Yang lebih
mengejutkan, alasan utamanya seringkali bukan karena penghasilan yang kurang,
melainkan pola perilaku yang sudah mendarah daging.
Masalah pertama berakar pada urutan prioritas yang terbalik. Mayoritas dari kita memiliki kebiasaan
menggunakan uang untuk kebutuhan dan keinginan terlebih dahulu, baru kemudian
menabung jika ada sisa. Masalahnya, sisa itu hampir tidak pernah ada. Ekonomi
Indonesia sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga (sekitar 55%), yang
artinya lingkungan kita memang didesain secara sistematis untuk membuat kita
terus berbelanja melalui flash
sale, diskon e-commerce, hingga kemudahan paylater yang kini penggunanya menembus 30 juta
orang.
Tanpa sadar, kita terjebak dalam siklus "Paycheck
to Paycheck". Sekitar 54% pekerja Indonesia hidup hanya
mengKamulkan gaji bulan ini untuk bertahan hingga bulan depan. Jarak antara
uang masuk dan uang keluar terlalu tipis, sehingga tidak ada "ruang
napas" untuk membangun dana darurat. Padahal, hanya 30% karyawan yang memiliki
dana cadangan. Akibatnya, ketika ada musibah kecil seperti kendaraan rusak atau
anggota keluarga sakit, satu-satunya solusi yang tersisa biasanya adalah
berutang.
Fenomena ini diperparah dengan literasi keuangan yang belum matang. Meski 80% masyarakat sudah
menggunakan produk perbankan atau e-wallet, banyak yang belum benar-benar paham
risiko, bunga, atau denda di baliknya. Kita seringkali "setuju" pada
syarat dan ketentuan hanya demi gengsi atau kenyamanan sesaat, tanpa menyadari
bahwa biaya-biaya tersembunyi itulah yang perlahan menggerogoti potensi
tabungan kita.
Dampak jangka panjangnya sangat nyata dan cukup memprihatinkan. Saat ini, 83% lansia di Indonesia harus bergantung pada anggota keluarga yang masih bekerja karena tidak memiliki aset atau investasi di masa mudanya. Inilah alasan mengapa memutus rantai Sandwich Generation menjadi sangat sulit, karena kita tidak terbiasa menciptakan "jarak" antara penghasilan dan pengeluaran sejak dini.
Kabar baiknya, perubahan tidak harus dimulai dengan angka
yang fantastis. Kunci untuk keluar dari statistik 70% tersebut bukanlah
menunggu gaji besar, melainkan membangun
kebiasaan menyisihkan uang di awal. Meskipun hanya 5% dari pendapatan,
konsistensi jauh lebih kuat daripada nominal yang besar namun hanya sesekali.
Di era sekarang, akses ke instrumen seperti pasar modal atau ETF sudah sangat
terbuka bagi anak muda di bawah usia 30 tahun.
Pada akhirnya, memiliki tabungan adalah tentang
pengendalian diri di tengah gempuran godaan konsumsi. Jadi, apakah Kamu akan
tetap menyalahkan gaji yang kecil, atau mulai berani menyisihkan sebagian kecil
pendapatan Kamu hari ini demi kemandirian di masa depan?
Kubu