Bukan Sekadar Jabatan! 4 Cara Melatih Leadership Skill untuk Karier Melejit

Pernah nggak
sih kamu melihat seseorang di kantor yang posisinya bukan manager, tapi kalau
dia ngomong, semua orang dengerin? Atau sebaliknya, ada yang gelarnya mentereng
tapi nggak ada yang respek?
Banyak orang
terjebak dalam mitos kalau leadership itu baru muncul setelah kita punya
bawahan. Padahal, menurut Pak Win dalam seri Wintalk-nya,
kepemimpinan itu bukan soal posisi di struktur organisasi, melainkan kumpulan
kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.
Ibarat mau punya badan atletis, kamu nggak akan langsung berotot cuma dengan lari satu jam sekali seumur hidup. Leadership skill itu persis seperti otot, perlu dilatih sejak dini supaya makin kuat seiring bertambahnya jam terbang dan tanggung jawab kamu di kantor.
Nah, buat
kamu yang ingin mulai membangun jiwa kepemimpinan meski sekarang masih di level
staf, berikut adalah 4 langkah praktis yang bisa langsung kamu eksekusi:
1. Jangan Tunggu Disuruh, Jadilah Sosok yang Inisiatif
Ciri paling
mencolok dari seorang leader adalah sifatnya yang proaktif. Jangan jadi
karyawan yang cuma "menunggu bola". Coba lebih peka dengan keadaan
sekitar.
Misalnya,
kalau kamu melihat ada celah dalam sebuah proyek yang bisa bikin tim rugi,
jangan diam saja. Kasih masukan, ajak tim terkait diskusi, atau tawarkan
solusi. Inisiatif kecil seperti menanyakan kenapa sistem perusahaan error, padahal
itu bukan tugas utama kamu, ini menunjukkan bahwa kamu peduli pada keberhasilan
kolektif. Orang yang punya inisiatif tinggi biasanya akan lebih cepat
"terlihat" oleh manajemen.
2. Jadilah "Support System" yang Positif
bagi Sekitar
Kepemimpinan
itu erat kaitannya dengan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Seorang
pemimpin yang baik adalah mereka yang hadir saat tim membutuhkan bantuan, baik
itu bantuan teknis maupun dukungan mental.
Kalau ada
rekan kerja baru yang kebingungan pakai software tertentu, jangan ragu
untuk mengajari. Atau saat ada teman satu tim yang baru saja kena tegur atasan
dan mentalnya drop, jadilah pendengar yang baik. Ketika kamu mampu memberikan
dampak positif bagi suasana kerja, secara tidak langsung kamu sedang
memposisikan diri sebagai sosok yang bisa diandalkan.
3. Biasakan Mengapresiasi, Bukan Cari Panggung Sendiri
Ada satu
perbedaan besar antara atasan dan pemimpin: Atasan bilang "Saya",
Pemimpin bilang "Kita". Jangan
pernah merasa kesuksesan sebuah proyek adalah hasil kerja kerasmu sendirian.
Biasakan untuk memberikan apresiasi kepada rekan kerja, apalagi di depan umum
atau saat rapat besar. Misalnya, saat dipuji atasan karena presentasi yang
bagus, jangan lupa sebutkan kontribusi rekanmu yang membantu desainnya. Dengan
menghargai peran orang lain, kamu justru akan mendapatkan respek yang jauh
lebih besar dan tulus dari lingkungan kerjamu.
4. Jangan "Baper" dengan Kritik, Fokuslah
pada Improvisasi
Pemimpin
yang hebat sadar bahwa mereka bukan manusia sempurna. Mereka punya yang namanya
blind spot, kekurangan yang tidak bisa dilihat sendiri tapi terlihat
jelas oleh orang lain.
Cara
melatihnya? Jangan takut minta feedback (masukan). Tanya ke rekan kerja
atau atasan, "Menurut kamu, apa yang bisa aku perbaiki dari cara
kerjaku?". Dan yang paling penting: jangan baper kalau dapat kritik pedas.
Terima masukan itu sebagai bahan bakar untuk memperbaiki diri. Ingat, kemampuan
menerima kritik tanpa defensif adalah salah satu level tertinggi dari
kematangan emosional seorang pemimpin.
Melatih leadership
skill sejak dini adalah investasi terbaik untuk masa depan kariermu. Ingat,
pemimpin hebat tidak lahir dalam semalam. Semakin sering kamu melatih 4 hal di
atas, semakin kuat "otot" kepemimpinanmu saat waktunya naik jabatan
nanti.
Gimana, siap buat mulai melatih jiwa kepemimpinanmu besok pagi di kantor?
Kubu